JOKOROWOTLOGOREJO
|
Ketentuan | DMCA | Partner

Slider

L3333XSâ„¢
Berita Utama

Popular Template

Label 7

Pro Kontra

Blusukan Jokowi Dinilai Habiskan Anggaran ?

Gaya Blusukan Gubernur DKI Jokowi dinilai Sekretariat Nasional Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Seknas Fitra) merupakan pemborosan anggaran dan juga tidak memunculkan solusi untuk warga Jakarta, Bila Anda setuju Rilis tersebut, pilih Pro! Atau Kontra Jika tidak setuju!
Pro!
Kontra!

Tess1

d
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Wong Cilik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Wong Cilik. Tampilkan semua postingan

Cari Uang Haram Susah Apalagi Yang Halal...?

Kim Wong Cilik | Judul diatas adalah pandangan bagi orang-orang yang belum melek. Orang yang terus-menerus merasa cemas bagaimana mendapatkan uang sehingga dilakukan dengan menempuh cara apapun. Ini berarti dia hanya menggunakan cara pandang dunia, cara pandang mata manusia, dan itu merupakan manusia yang sudah melupakan akhirat, melupakancara pandang Tuhan.

Cari Haram Susah Apalagi Uang Yang Halal
Beberapa hari yang lalu aku mengalami kejadian lucu. Sebuah penipuan kecil. Penipuan kok lucu? Ya, karena jumlahnya yang tidak seberapa, hanya uang sejumlah dua belas ribu rupiah. Uang
segitu mungkin hanya cukup untuk makan satu kali di warung sederhana. Beda
cerita lagi kalau yang hilang sampai ratusan ribu atau juta;an, itu baru nggak ada lucu-nya sama sekali, hehe

Bermula sekitar jam sebelas pagi
Tiba-tiba ada seorang ibu-ibu setengah baya di depan pasar setengah berteriak mengucapkan salam. Setelah kutemui dia bercerita kalau baru saja menyerempet seorang anak dengan motornya.
Kemudian dia bilang mau pinjam uang, soalnya uang yang dia bawa kurang untuk ganti rugi. Katanya akan dikembalikan segera setelah dia pulang ke rumah untuk mengambil uang.

Dasar otak ku yang lagi lemot, aku sama sekali tidak menaruh curiga.
Aku mengiyakan saja dan bergegas mengambil uang. Baru setelah teman kerjaku tanya,apa mau dikasih padahal nggak kenal? Kasih lima ribu saja, sarannya. Aku baru mikir, iya ya; jangan-jangan penipu. Tapi alih-alih merasa marah karena hendak ditipu, aku justru merasa kasihan. Eh, ini aneh juga ya, mau ditipu tapi malah merasa kasihan pada yang akan menipu. Jangan-jangan, otakku perlu direparasi, hehe;
Akhirnya tetap kuberikan padanya uang sejumlah yang dia minta, dua belas ribu rupiah. Sambil tetap berharap semoga kecurigaanku salah. Semoga wanita ini memang jujur, dan benar-benar membutuhkan pertolongan.

Kemudian ternyata sampai sore aku pulang kerja, wanita itu sama sekali tidak kembali. Namun aku sama sekali tidak merasakan penyesalan. Justru membuatku kembali berpikir, apakah wanita itu memang benar-benar kepepet sehingga menggunakan cara seperti itu?
Tidak adakah sama sekali cara lain yang baik untuk mendapatkan uang? Padahal melihat dari penampilannya, dia tidak seperti orang yang kekurangan. Apalagi dia membawa motor. Ah, entahlah; yang jelas aku yakin Tuhan tidak akan pernah salah membagikan rejeki pada hambanya.

Aku percaya, apapun yang diambil orang dari kita, jika memang itu hak kita, maka akan dikembalikan
Karena aku sangat percaya Tuhan Membagi dan Mengambil Rejeki hambanya dgn cara sudah ia tentukan,
Tuhan dengan cara lain juga yang tidak kita duga-duga. Bahkan dengan cara yang tidak kita sadari.
Apalagi rejeki yang sebenarnya tidak hanya dalam bentuk uang saja.

Makanya, aku sama sekali tidak memahami jalan pikiran para koruptor pemakan uang Negara yang selalu menghiasi layar kaca. Untuk apa dipandang terhormat dimata manusia karena berlimpah harta
namun rendah di mata Tuhan yang Maha Kuasa? Bukankah orang hidup itu intinya adalah Inna lillahi wa inna ilaihi raji;un? kepadaNya lah kita nanti akan kembali.
Kita tidak bisa lari dan mengelak. Mencari dunia itu baik asalkan dengan cara yang baik, dan mempergunakannya dengan baik dan bijak pula. Maka tidak perlulah kemrungsung akan
dunia. Yang paling utama Allah selalu meridhoi segala langkah kita. Itu sudah cukup.
( Tulisan Di Atas Hanyalah Ilustrasi Semata )

Bila Derajat Kita Di Bandingkan Drajat Orang Gila

KIM Wong Cilik | Bila Derajat Kita Di Bandingkan Drajat Orang Gila
Yang dimaksud dengan orang gila di sini adalah istilah yang sering digunakan di masyarakat untuk
menyatakan orang yang tidak sehat akalnya, tidak waras, atau berperilaku sangat
aneh. Di lingkungan dunia medis lebih sering digunakan istilah gangguan jiwa

Sedangkan Cara pandang kebanyakan orang,
menempatkan orang gila sebagai manusia yang mempunyai derajat paling rendah.
Orang gila tidak bisa mempergunakan akalnya sehingga bisa dikatakan, jangankan
untuk mengerti norma dan sopan santun, bahkan telanjang di tempat umum pun
mereka tidak malu dan tetap terlihat cuek ( Karena Dia Orang Gila )

Kalau begitu, jelas derajat kita lebih tinggi dong? Masak dibandingkan kok dengan orang gila...? Namun cara pandang lain bisa meletakkan lebih mending orang gila daripada manusia normal

Cara pandang yang satu ini menemukan bahwa orang gila sangat mungkin lebih baik daripada manusia normal. Misalnya masih lebih baik orang gila, yang tidak mungkin merampok, korupsi, atau menyakiti hati orang. Masih mending orang gila, yang tidak mungkin dengki, iri atau baik kepada orang lain hanya karena ada kepentingan. Sedangkan manusia normal bisa berkemungkinan melakukan segala hal tersebut. Makanya manusia normal bisa lebih baik dari orang gila, bisa juga lebih rendah dari orang gila.

Orang gila tidak berkewajiban sholat, puasa, dan ibadah-ibadah wajib yang lain. Sedanangkan manusia normal beragama islam yang memiliki kewajiban untuk beribadah, masih sangat mungkin melakukannya setengah hati bahkan melalaikannya. Maka bukankah masih mending orang gila yang tidak berdosa karena tidak beribadah daripada manusia normal yang dosanya bertumpuk-tumpuk ketika sering melalaikan ibadah?

Namun disini bukan berarti mending jadi gila saja daripada normal. Bagaimanapun juga manusia normal masih berkesempatan menabung amal sholeh untuk memperoleh derajat yang tinggi di sisi Allah SWT. Kita hanya cukup mengambil pelajaran, jangan sampai kita berperilaku yang membuat kita memiliki derajat lebih rendah dari orang gila. ( Hanyala Cerminan Hidup )

Wong Cilik Ongklak Angklik

Wong cilik linggih dingklik, ongklak angklik.
Dingklike cilik yen di senggol njempalik.

Wuala..... dadi wong ki nek cilik nyandang ra patiyo apik, mangane sithik yen arep tanduk ndadak lirak lirik.

Yen salah sithik sing gede banjur mendelik, arep nandangi apa-apa mesti gendulak-gendulik.

Wong cilik - wong cilik nduwe duit sithik ya kepingin iwak pitik.

Nanging kabeh mau ndadekake kepenak, amargo ora nate KPK tilik.

Wis ya Yu, aku mulih disik aku lagi ninggal dang-dangan sega berase pulen, beras menthik.

Salam ya Yu kanggo pak Lik

Beginilah nasib-nasib wongcilik, uang yang menjamìn hidup setiap manusia yang dapat menciptakan segala angan-angan, mewujudkan segala impian, sumber segala bentuk kemaksiatan, dan sebaliknya adalah sumberkebaikan dan pahala bagi orang-orang yang ikhlas dan beriman, karna uang orang bisa kehilangan ingatan, tega mebunuh sesama, merampok,mencuri, bahkan semua pejabat, sampe pns kelas bawa pun suka Menlakukanya tanpa malu-malu, tapi ko kenapa gajinya mau dinaekan lagi ya, sementara disisi lain banyak rakyat yang menderita, kelaparan, padahal mereka juga bayar pajak. sungguh kacau negri ini. Ingatlah, harta kekayan, uang dan lain sebagainya, ga'akan dibawa mati, kecuali amal ibadah kita, yang ilakukan dengan jalan benar dan ikhlas. surga dan neraka tidak dapat dibeli dengan uang, seperti dinegri ini yang segalanya bisa di beli dengan uang,

Ketika Matahari Di Atas Tlogorejo

Sebut aja Kang Paijo yang tampak kusut dan nelangsa. Ia membuka caping dan duduk leyeh-leyeh di bawah pohon singkong. Debu kemarau ditiup angin yang panas menerpa wajahnya yang cokelat kehitaman penuh keringat. Ia sedih menatap Bronjong yang nangkring di sepeda onthel warisan bapaknya. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana. Karena perkembangan zaman beronjong tidak lagi nagkring di atas sepedah Ontel.Banyak Penguna bronjong yang mengunakan sepedah Motor,Sedangkan Pak Paijo setiap hari dia berjualan sayur dengan onthel dan beronjongnya.Jelas Pak Paijo Kalah Cepat Dengan Pedagang Lainya...

Mata pak Paijo terpejam sebentar, lalu tersentak bangun. Terbayang kata-kata isterinya yang minta uang untuk nyumbang. Hajatan bulan ini memang banyak. Pakdhe Marijo dan Mbah Parto mau mantu sedangkan Lik Domo dan Lek Pardi mau menyunatkan anaknya, dan Yu Sawi kemarin melahirkan. Ada 5 orang punya hajat. Semua harus rewang dan nyumbang karena adat yang berlaku di kampung Kang Paijo ( Tlogorejo ) memang begitu. Aib jika tidak datang ke tempat orang punya hajat.

Nyumbang, tidak sekadar membawa uang. Tapi harus membawa gawan. Beras, tempe, jipang, kelapa, bihun, gula, teh bahkan kadang rokok 1 selop. Pak Paijo meraba-raba sakunya. Kempes.Pak Paijo bangun dan kembali menjajakan dagangannya. Di terik matahari musim kemarau yang panas itu, tubuh kurusnya terus mengayuh sepeda onthel memasuki gang-gang di Desa Tlogorejo.

Sayur...sayur...! Sayur...sayur...! Sayur... sayur...!Suaranya melengking-lengking menawarkan dagangannya yang masih banyak. Biasanya menjelang Asar banyak ibu-ibu yang membeli sayur. Tapi kali ini sepi. Pak Paijo tak henti-hentinya menawarkan dagangannya. Melengking-lengking dan parau. Lelah, peluh, dan haus memenuhi tubuh kurusnya. Tapi ia tak gentar. Setiap peluh yang menetes ia niatkan sebagai ibadah. Mencari nafkah untuk anak dan isterinya.

Beli bandeng, Pak...!Ada ibu-ibu melambai-lambaikan tangannya. Pak Paijo bersyukur. Ia menghentikan onthel-nya dan melayani dengan gembira.Pak Paijo tak henti-hentinya bersyukur. Terbayang isteri dan anak-anaknya di rumah yang rajin beribadah dan mendoakannya. Paijem, isterinya adalah wanita yang taat beragama. Dengan sukarela ia membantu menjaga dapur agar tetap berasap. Bekerja sebagai pemilah sampah di TPA sebelah barat kampung. Bau busuk menyengat tak dihiraukannya. Berpuluh-puluh tahun hidup sederhana dan serba pas-pasan dilaluinya dengan tabah.

Pagi ini Pak Paijo tidak berjualan. Sejak bangun pagi Pak Paijo hanya leyeh-leyeh di dipan teras rumahnya. Dulu Pak Paijo tidak mau menjadi buruh pabrik karena rawan terkena PHK, pemecatan. Dia memilih menjadi pedagang dengan alasan jika ditekuni akan sukses dan tak ada yang memerintah apalagi memecat dia. Kenyataannya tidak demikian. Sekarang Pak Paijo Hampir kehilangan pekerjaan. Karena kalah cepet dengan pedagang lainya. Memang di desa tlogorejo banyak penjual sayur dan keperluan dapur tidak mengunakan ontel,
Bu Paijem"Jangan terlalu dirisaukan Pak! Rezeki sudah ada yang mengatur.
Tabah dan tawakal saja!"ucap Bu Paijem sambil menghidangkan ubi rebus dan teh.
Iya, tapi kita kan harus tetap berusaha. Aku tak habis pikir,Zaman Maju Tapi Wong Cilik Selalu Susah,
Oalah Kang, kita itu rakyat kecil, wong cilik ongklak-angklik. Untuk apa mikir yang begitu. Lebih baik berpikir cari pekerjaan lain. Apa sampeyan ikut kerja di TPA saja. Daripada menganggur.
Aku ingin merantau saja. Kemarin Pakdhe Karso nawari kerja jadi buruh bangunan di Bojonegoro. Lumayan, sehari Rp 35.000,ucap Pak Paijo sambil menyeruput teh panas buatan isterinya.
Pak, jangan merantau.Di Bojonegoro Kota sana semua kan mahal. Uang Rp 35.000 tidak akan cukup. Di sana juga ramai. Pokoknya mangan ora mangan kumpul.
Kumpul tidak kumpul, yang penting bisa makan.
Terserah Bapak, Aku tetap tidak setuju.;Ucap bu Paijem"

Pak Paijo menarik nafas dalam-dalam, menahannya sebentar, lalu mengembuskannya lewat mulut.bahkan keluarjaga udara dari buntut, Terasa berat beban yang ditanggungnya kali ini. Sebagai lelaki, kepala rumah tangga, dia harus bisa menghidupi keluarganya. Bekerja, bekerja dan bekerja. Itulah yang ada di benak Pak Paijo

Pagi yang cerah.Pak Paijo bertekad bulat untuk berangkat ke Bojonegoro. Isteri dan anaknya meskipun dengan berat hati, akhirnya mengizinkan Pak Paijo. Sebelum berangkat,Pak Paijo berpesan pada anak isterinya agar senantiasa mendoakannya. Dipeluknya anak isterinya itu dengan erat.
Empat bulan telah berlalu.Pak Paijo belum juga memberi kabar.Bu Paijem menangis tiap hari. Ia ingin mengabarkan bahwa dirinya hamil. Tapi ke mana ia akan memberi kabar? Alamat suaminya saja tidak tahu. Pakdhe Karso yang dulu menawari kerja juga tidak tahu. Katanya dulu dititipkan temannya di Bojonegoro.

Tiap sore, ketika senja yang berwarna jingga menggantung di langit barat,bu Paijem berteriak-teriak memanggil-manggil nama suaminya.Apa yang terjadi pada Pak Paijo....Ikuti Cerita Berikutnya.
Bersambung................ 
 

Racing

Label 8

Trending Template

">Index »'); document.write('

?max-results=10">Tes Label 15');
?max-results="+numposts1+"&orderby=published&alt=json-in-script&callback=showrecentposts1\"><\/script>");

Label 1

.
Original Template By | Creating Website
Desain Modification © 2014 By | JokoRowoTlogoRejo